Vaksinasi Covid-19, Harapan, dan Pijakan Kaki

  • Bagikan
Jernih Melihat Dunia. Artwork karya Wulang Sunu untuk Kompas.com(Wulang Sunu) 

Dear Gerbang,

Hai, apa kabarmu? Semoga kabarmu baik.

Saat ini, seperti saya alami, memastikan kabar keluarga, sahabat atau teman-teman bukan lagi pertanyaan basa-basi. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, menyadari kondisi diri menjadi penting.

Sekali lagi, apa kabarmu? Sambil menarik nafas dalam dan mengembuskannya pelan, jawablah pertanyaan ini untuk dirimu sendiri. Karena pertanyaan untuk diri sendiri, jawablah sejujur-jujurnya apa pun kenyataan yang disadari.

Tak perlu berpura-pura baik jika kabar memang sedang tidak baik. Tak perlu berpura-pura tidak baik jika kabar memang sedang baik. Sadari dan terima. Kesadaran dan penerimaan atasnya jauh lebih baik, apa pun itu kondisinya.

Pertanyaan soal kabar ini saya ulang karena harapan baik untuk tahun 2021 seperti gugur di dua minggu pertama. Secara beruntun, rasa duka menghampiri kita.

Belum pulih duka kita karena kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di perairan Kepulauan Seribu, banjir besar terjadi di Kalimantan Selatan, longsor terjadi di Sumedang, gempa bumi terjadi di Sulawesi Barat dan sejumlah gunung berapi aktif memberi tanda-tanda akan adanya bahaya.

Bagaimana kita meletakkan harapan di tengah kerapuhan dan ketidakmampuan kita untuk menghadapi ketidakpastian yang demikian besar juga ketika berhadapan dengan fenomena alam?

Baca Juga:  Ini 10 Orang Penerima Vaksin Perdana di Belu
Tangkapan layar akun Instagram resmi TNBTS yang menunjukkan luncuran lava pijar di Gunung Semeru.(KOMPAS.COM/ANDI HARTIK)

Apa makna kabar buruk dan kerap memunculkan penderitaan di tengah kegairahan kita meletakkan harapan?

Seorang teman datang menyapa lewat pesan di media sosial. Teman yang kerap jadi teman bercakap-cakap di sela-sela waktu istirahat ketika mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Serpong, Tangerang.

Teman saya meyapa lewat artikel terbarunya. Sebagai doktor dengan bidang penelitian filsafat politik, filsafat ilmu dan kebijaksanaan timur, hampir setiap minggu ada artikel terbaru muncul di blognya.

Jauh dari gambaran doktor filsafat pada umumnya, tulisan-tulisan teman saya ini mudah sekali dicerna justru karena tidak hendak menunjukkan kepakarannya.

Atas pertanyaan yang memunculkan rasa gelisah soal harapan dan penderitaan, teman saya itu menulis artikel berjudul “Batu yang Dilempar Pasti Kembali ke Tanah”.

Artikel yang dikirimkannya lewat aplikasi Whatsapp itu membuat saya hening dan menemukan jawaban. Jatuh adalah hukum alam untuk sesuatu yang dilambungkan atau dilemparkan ke atas.

Rasa sakit atau penderitaan yang hadir karena jatuh adalah pintu masuk untuk kesadaran. Dalam bahasanya, derita akan membangunkan dari tidur yang membuat kita terlenakan.

Baca Juga:  Meretas WhatsApp dan Partai Demokrat

Nama teman saya ini adalah Reza AA Wattimena. Adik kelas jauh ketika kuliah dan telah menyelesaikan studi doktoral di kampus idaman saya.

Kami sering bercakap-cakap karena memiliki perhatian dan kegelisahan yang sama. Meskipun jauh lebih muda, saya banyak menimba kebijaksanaan dan mendapatkan kesadaran-kesadaran baru darinya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) menyaksikan penyanyi Ariel NOAH menjalani vaksinasi Covid-19 di Kota Bandung, Kamis (14/1/2021).(Instagram Ridwan Kamil)

Oya, soal kesadaran baru, vaksin memang sudah didapatkan dari hasil sejumlah penelitian. Di Indonesia, vaksinasi sudah dimulai pertama-tama dari Presiden Joko Widodo pekan lalu dan diikuti tenaga medis dan orang-orang terpilih.

Kegairahan muncul di mana-mana karena kabar baik ini.

Tidak keliru. Kabar baik merawat jiwa kita juga setelah nyaris satu tahun ada dalam tekanan. Atas kabar baik itu, muncul harapan. Pandemi segera berakhir karena vaksinasi yang akan diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Berkaca pada sejarah dan pengalaman kita sebagai manusia, tidak ada vaksin yang menghentikan pandemi. Harian Kompas, 18 Januari 2021 membuat laporan khusus dan penelitian soal ini.

Karena itu, sebelum harapan kita lambungkan terlalu tinggi, kita tengok pijakan kaki. Selain vaksinasi, pengendalian penularan virus lewat penguatan surveilans dan perubahan perilaku perlu gigih dan terus menerus dilakukan.

Baca Juga:  Puskesmas Lurasik TTU Adakan Vaksin Perdana Covid-19

Semua perlu dijalankan bersamaan untuk mewujudnya harapan.

Tanpa langkah kaki yang dipijakkan dengan surveilans (peningkatan kapasitas tes, pelacakan, isolasi dan perawatan) dan perilaku (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak), harapan bisa berantakan. Vaksin bisa gagal.

Terkait dengan kegairahan kita akan vaksinasi, perlu diketahui 15 kondisi orang yang tidak bisa disuntik vaksin Sinovac. Dari uji klinis yang dilakukan di Bandung, vaksin ini mampu menurunkan angka kejadian Covid-19 hingga 65,3 persen.

Untuk diketahui, meskipun akan dilakukan sesingkat-singkatnya, ada acuan untuk penyelesaiannya berupa harapan. Diharapkan, akhir Desember 2021, 181,5 juta warga Indonesia telah divaksin.

Karena vaksin dilakukan dua kali dan mengantisipasi hal-hal lain, dibutuhkan 426 juta dosis vaksin sampai harapan itu terpenuhi.

Ilustrasi berkesadaran melalui nafas.(Shutterstock)

Bagaimana kita meletakan harapan untuk upaya-upaya baik ini?

Jangan tinggi-tinggi karena kaki tetap harus memijak bumi.

Tanpa pijakan kaki ke bumi, harapan akan jatuh berkeping-keping. Rasa sakit dan derita akan didapati.

Kalau akhirnya terjadi, ini bukan kerugian. Rasa sakit dan derita adalah pintu masuk untuk kesadaran.

Salam sadar,
Wisnu Nugroho
Pemimpin Redaksi Kompas.com

  • Bagikan