Sudah Disiplin 3M Tetap Terpapar Covid-19, Lantas Bagaimana?

  • Bagikan
Doni Monardo mengatakan selama dua minggu terakhir angka kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan yang berdampak pada keterisian ruang isolasi yang semula 32 persen saat ini naik menjadi 53 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Hai, apa kabarmu?

Semoga kabarmu baik lantaran kesehatan jiwa, pikiran dan raga yang terawat. Jiwa, pikiran dan raga adalah milik kita satu-satunya yang melekat erat ke mana pun dan bagaimana pun kondisi kita.

Karena itu, merawat jiwa, pikiran dan raga agar tetap sehat tidak akan pernah sia-sia.

Terkait pikiran, minggu lalu saya cukup terganggu. Tidak hanya saya, ternyata beberapa teman yang saya tanya mengalami gangguan pikiran yang kurang lebih sama.

Gangguan pikiran itu dipicu kabar mengenai Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo yang positif Covid-19.

Pikiran saya terganggu lantaran pertanyaan soal kegunaan protokol kesehatan. Mereka yang disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan menjaga jarak (3M) terpapar virus, lantas bagaimana?

Gangguan pikiran itu dikonfirmasi dengan kabar serupa terkait status teman kantor yang dianggap paling disiplin menerapkan protokol kesehatan tetapi juga terpapar virus.

Teman-teman satu ruangan yang tampak lebih sembrono dalam menerapkan protokol kesehatan tidak terpapar virus dan lewat swab antigen dinyatakan negatif.

Gangguan pikiran ini lantas menggoyahkan pikiran soal kegunaan protokol kesehatan.

Namun, gangguan pikiran ini tidak berlangsung lama. Terpaparnya mereka yang disiplin dengan protokol kesehatan tidak menjadi alasan saya mengendorkan disiplin.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 sekaligus Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo memberikan keterangan pers di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Minggu (15/11/2020).

Seperti diakui Doni Monardo, meskipun tidak terlihat, Covid-19 begitu dekat. Lantaran begitu dekatnya, mereka yang disiplin dengan protokol kesehatan pun bisa terpapar.

Pelajaran lain bagi kesehatan pikiran saya adalah fakta mengenai mereka yang lebih sembrono dengan protokol kesehatan tetapi tidak terpapar.

Meskipun tidak terlihat apakah virus menghampiri mereka yang sembrono atau tidak, ada faktor lain selain protokol kesehatan agar tidak terpapar virus.

Faktor lain itu adalah imunitas tubuh yang baik. Imunitas yang baik membuat virus tidak mampu menginfeksi tubuh.

Aktris dan presenter Nirina Zubir bersama sejumlah koleksi tanaman di kebunnya. (TANGKAP LAYAR INSTAGRAM/NIRINA ZUBIR)

Pengalaman panjang Nirina Zubir melawan Covid-19 di dalam tubuhnya adalah pengalaman menaikkan imunitas tubuh untuk melawan virus.

Merawat kesehatan jiwa, pikiran dan raga adalah upaya menyeluruh untuk menjaga imunitas tubuh agar tetap baik.

Tetap tenang, hening dan responsif baik untuk kesehatan jiwa. Menjaga keseimbangan informasi dan bersikap kritis terhadap segala sesuatu baik untuk kesehatan pikiran. Aktivitas fisik teratur baik untuk kesehatan raga.

Selain itu, jenis-jenis makanan tertentu juga membantu meningkatkan imunitas tubuh. Pilihan makanan yang akan tinggal di dalam tubuh kita turut menentukan.

“You are what you eat.” Begitu para aktivis kuliner kerap menyatakan dan mengandung kebenaran.

Ini beberapa rekomendasi yang bisa jadi pilihan jenis makanan yang menaikkan imunitas tubuh. Semua dekat dengan keseharian. Mulai dari jamur kancing sampai putih bisa jadi pilihan.

Oya, soal tidak kendornya disiplin protokol kesehatan meskipun ada fakta mereka yang sangat disiplin terpapar Covid-19 saya termukan padanannya dalam berita yang banyak pembacanya minggu kemarin.

Berita itu adalah tentang pedagang mi ayam bakso di DI Yogyakarta, tepatnya di Jalan Moses Gatotkaca, Mrican, Sleman.

Namanya Charlotte Peeters. Tinggal di Indonesia sejak 2009 dari Amsterdam, Belanda lantaran ingin belajar Bahasa Indonesia untuk keperluan mencari pekerjaan.

Yogyakarta yang jadi tempat tujuan datang ke Indonesia mempertemukannya dengan lelaki yang menjadi suaminya, Arya Andika Widyadana. Keduanya menikah pada 13 Desember 2011.

Charlotte Peeters saat memasak mie ayam di warungnya (KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA)

Sejak menikah, keduanya merintis usaha di bidang pariwisata di DI Yogyakarta. Semua berjalan sesuai rencana sampai akhirnya pandemi datang dan merontokkan industri pariwisata.

Charlotte yang memiliki nenek seorang Indonesia (Lampung) dan ayah yang lahir di Indonesia (Sorong) lantas bersiasat sedemikian rupa agar tetap bisa bertahan dengan usaha yang dirintis dan digelutinya.

Namun, situasi tidak kunjung kembali seperti diperkirakan dan diharapkan. Keputusan besar diambil pada 17 Agustus 2020.

Untuk sekadar mendapatkan pemasukan agar bisa bertahan, Charlotte membuka warung mi ayam bakso dengan nama “Mi Ayam Telolet”.

Charlotte memulai dari nol merintis usaha warungnya. Berangkat dari makanan kesukaannya dan suaimnya sebagai pijakan. Dirinya suka mi ayam, suaminya suka bakso. Keduanya dikombiasikan untuk dijadikan menu andalan.

Pada awal jualan, mi ayam diberi harga Rp 5.000. Harga yang relatif murah juga untuk ukuran Yogyakarta.

Alasan Charlotte menetapkan harga yang murah adalah karena empati kepada orang-orang yang mengalami kesusahan juga karena pendemi. Meskipun murah dan terjangkau, rasa tetap diperuangkan agar enak sesuai patokannya.

Masuk bulan kedua, karena beberapa pertimbangan khususnya biaya produksi, harga dinaikan menjadi Rp 7.000.

Namun, pada saat bersamaan, pembatasan secara terbatas kegiatan masyarakat (PSTKM) di Sleman memukul usahanya.

Charlotte tidak mengeluh dan mengendorkan upaya di tengah keterbatasan yang memunculkan kekecewaan. Sampai akhirnya, kegigihannya ditangkap kamera pembeli dan mi ayam dagangannya menjadi viral.

Kebuleannya yang ditangkap sebagai kejanggalan untuk berdagang “mi ayam murahan” menarik minat orang-orang.

Upayanya banting stir dari usaha pariwisata ke kuliner untuk mencari pemasukan harian agar tetap survive di masa pandemi bisa tetap dijalankan.

Di masa pandemi dengan pembatasan yang diperketat, omzetnya sehari Rp 800.000. Sempat turun sampai Rp 150.000 ketika PSTKM awal-awal diterapkan.

Saat omzet turun, Charlotte tidak menyerah. Ia tetap gigih berjualan dalam situasi serba terbatas dan tuntutan penerapan protokol yang baik untuk kesehatan dirinya dan pelanggan.

Kegigihan Charlotte menemukan “keberuntungan” berupa video viral tentang warung mi ayam yang diusahakan.

Pertanyaanya, kenapa orang-orang tertentu diberi “keberuntungan” sementara yang lain tidak?

Seorang seniman mural membuat mural dengan tema kampanye melawan COVID -19 di kawasan Tanah Tinggi, Tangerang, Banten, Rabu (20/1/2021). Kampanye dalam bentuk mural melawan COVID-19 tersebut merupakan bagian dari edukasi bagi masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap pandemi itu. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)

Sebagai yang tidak percaya dengan keberuntungan, apa yang dialami Charlotee menurut saya bukan karena dihampiri keberuntungan.

Kegigihannya mengantarnya bertemu keberuntungan. Demikian juga untuk hal-hal lain.

Pertanyaan apakah saya beruntung kemudian harus dijawab dengan pertanyaan lain.

Apakah saya gigih untuk hal-hal yang tengah saya perjuangkan?

Salam gigih,
Wisnu Nugroho
Pemimpin Redaksi Kompas.com

  • Bagikan