Lelucon di Istana dan Bagaimana Melawan dengan Cerita

  • Bagikan
Warga bersembahyang di Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio, Palmerah Selatan, Jakarta Barat, Kamis (11/2/2021). Tahun Baru Imlek kali ini pengurus vihara menyelenggarakan sembahyang malam Imlek kepada warga Tionghoa mulai pukul 06.00 - 20.00 WIB, dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Hai, apa kabarmu? Semoga kabarmu baik. Kesehatan terjaga, baik kesehatan raga, pikiran dan juga jiwa.

Kita baru saja melalui minggu yang berbeda. Dua hari besar berturut-turut kita lewati tanpa riuh-rendah dan keramaian seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hari besar pertama adalah Tahun Baru Imlek 2572 yang jatuh pada 12 Februari 2021. Hari besar kedua adalah Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari 2021.

Untuk dua hari besar yang umumnya datang berurutan itu, kita mendapati kemeriahan yang nyata di mana-mana. Termasuk tentu saja kemeriahan itu hadir di media sosial.

Tahun ini, kemeriahan itu, terutama perdebatan pro dan kontra di media sosial khususnya soal Hari Valentine tidak mencuat. Kabar baik yang dibawa pandemi menurut saya.

Soal Imlek, meskipun kemeriahannya di luar berkurang, kemeriahan di dalam menyeruak. Tiga anak saya yang sebenarnya tidak ada dalam tradisi Imlek tiba-tiba minta angpao.

Saya berusaha mencari amplop merah jelang Imlek dan ikut merayakan kemeriahan Imlek di rumah.

Warga bersembahyang di Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio, Palmerah Selatan, Jakarta Barat, Kamis (11/2/2021). Tahun Baru Imlek kali ini pengurus vihara menyelenggarakan sembahyang malam Imlek kepada warga Tionghoa mulai pukul 06.00 – 20.00 WIB, dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Mulai tahun ini, Imlek jadi perayaan kultural buat keluarga saya. Mirip perayaan kultural karena Idul Fitri dan Natal. Tanda kultural itu merasuk adalah amplop ini hihihi.

Bagaimana Imlek kamu lalui? Untuk kamu yang merayakan, selamat tahun baru ya. Setiap tahun baru selalu membawa harapan baru dan semoga harapan baru itu mewujud di tahun mendatang.

Selain Imlek dan Valentine, minggu lalu diperingati juga Hari Pers Nasional, 9 Februari. Di media sosial, gaung dari perayaan ini juga ramai diperbincangkan lantaran pernyataan Presiden Joko Widodo.

Di peringatan yang dipusatkan di Istana Negara itu, Presiden menyatakan, pers jadi ruang diskusi dan kritik agar kerja-kerja pemerintah menjadi lebih baik.

Karikatur karya Jitet Koestana berjudul Di Negeri Dagelan (2013).(Jitet Koestana)

Sebuah pernyataan yang melegakan. Ditambah lagi dengan pernyataan para pembantunya yang menguatkan seperti disampaikan Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pemerintah menurut Pramono membutuhkan kritik terbuka, pedas dan keras dari pers. Kebebasan pers untuk melakukan tugas itu dijamin seperti tertuang dalam Undang-Undang No 40 Tahun 1999.

Kritik dipahami seperti jamu. Pahit, tidak enak, tetapi menyehatkan. Dengan kritik pers, pemerintah bisa lebih terarah dan lebih benar.

Sampai di sini, semua sepakat. Melegakan mendengar penyataan ini. Masalah muncul ketika realita yang dihadapi tidak sesuai dengan pernyataan ini.

Saat ini, pers dan masyarakat merasa kesulitan menyampaikan kritik. Kritik kerap diikuti dengan ancaman.

Kwik Kian Gie saat menyampaikan testimoni pada peringatan Haul Gus Dur ke-9 di Pesantren Tebuireng Jombang, Minggu (16/12/2018) malam.(KOMPAS.com/MOH. SYAFI’I)

Ketakutan Kwik Kian Gie yang sangat kritis kepada pemerintah sejak era Orde Baru adalah gambaran hal ini. Dewan Pers menyebut kehadiran buzzer membahayakan kebebasan pers.

Seperti terjadi, ancaman kebebasan pers dalam bentuk penghentian penerbitan saat ini bukan lagi dari pemerintah seperti terjadi di era-era sebelum reformasi.

Ancaman kebebasan pers itu bisa datang dari masyarakat yang dimobilisasi baik secara langsung maupun virtual. Buzzer ini yang disinyalir Dewan Pers sebagai ancaman kebebasan pers secara virtual.

Meskipun dibantah bahwa pemerintah punya buzzer, jejak digital dan aktivitas buzzer yang punya korelasi dengan pemerintah tidak bisa dihapus.

Tidak seperti pemerintah yang membatah, para buzzer justru memamerkan korelasi mereka dengan pemerintah yang membantah dengan foto-foto, salah satunya di Istana.

Juru Bicara Istana mungkin perlu menertibkan hal ini terlebih dahulu sebelum membantah hal-hal yang pada kenyataannya sangat mudah didapati.

Setidaknya, beda kata dan perbuatan supaya tidak muda sekali didapati. Kepercayaan pasti mudah runtuh karena hal ini.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla memberikan keterangan terkait sejumlah isu salah satunya virus corona di kediamannya di Jakarta, Rabu (5/2/2020). (Kompas.com/Wisnu Nugroho)

Keresahan Jusuf Kalla yang pernah menjadi wakil presiden periode pertama Presiden Jokowi mewakili hal ini. Para buzzer antikritik, bertentangan dengan Jokowi.

Jusuf Kalla mengatakan, kawan yang baik itu yang selalu mengingatkan bukan memuji. Yang memuji akan membuat kawan masuk jurang.

Senada dengan hal ini, Senin lalu obrolan saya dengan CEO Visinema Angga Dwimas Sasongko tayang di Youtube.

Terkait dengan kritik yang kerap disampaikannya dan diterimanya, Angga mengemukakan pentingnya memilah dan mimilih kritik secara tepat, bukan melulu dari orang yang selalu setuju dan sepaham.

Masih dalam rangka Hari Pers Nasional, perlu disebut bahwa ancaman lain kebebasan pers dalam arti hal yang membuat penerbitan pers berhenti adalah model bisnisnya.

Banyak didapati, pers berhenti terbit karena tidak menemukan model bisnisnya, bukan karena ulah kekuatan besar di luar media seperti pemerintah atau mobilisasi massa.

Menemukan model bisnis yang lestari adalah tantangan paling nyata untuk penerbitan dan kebebasan pers saat ini.

Karena itu, hari-hari ini tidak ada kisah heroisme ketika penghentian penerbitan pers terjadi baik cetak maupun digital.

Kematiannya senyap atau bahkan tidak dikabarkan karena masih bisa pura-pura hidup di ranah digital sambil berjuang menemukan model bisnis.

Ranah digital memang sarana paling sempurna untuk kepura-puraan.

Menyakitkan. Akan tetapi, inilah kebenaranya.

Hening dan merasakan kepenuhan di dalam diri(Shutterstock)

Soal hal menyakitkan lantaran mendapati kebenaran ini, saya kutipkan peringatan sebelum membaca buku “Doa Sang Katak” yang ditulis Anthony de Mello.

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran,… reaksi pertama manusia terhadap Kebenaran itu dalah benci dan takut. Itu adalah suatu misteri yang besar.

Oleh karena itu, Guru-guru Kerohanian umat manusia menciptakan sarana untuk menyingkirkan daya tolak dalam diri para pendengarnya: cerita.

Mereka tahu, kata-kata yang paling memikat yang dimiliki oleh setiap bahasa adalah, “Pada suatu ketika…”

Mereka tahu bahwa menolak kebenaran adalah biasa, tetapi menolak cerita adalah tidak mungkin.

Cerita akan menyelip masuk ke dalam hati kita dan meruntuhkan tembok-tembok yang membuka jalan bagi kebenaran.

Untuk hal ini, saya lantas ingat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang bersiasaat menyampaikan kritik, perlawanan dan kebenaran dengan cerita. Melawan dengan lelucon.

Ada dua lelucon di tulisan ini jika kamu mengenali. Satu lelucon di Istana dan satu lagi lelucon di media.

Salam lelucon,
Wisnu Nugroho
Pemred Kompas.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan