Divonis Kasus Pembunuhan, Ini Potret Dominicus Taolin Penguasa Pulau Timor

  • Bagikan
Potret Dominicus Taolin Penguasa Pulau Timor/Foto: twitter potretlawas

Jakarta, GerbangIndo – Indonesia salah satu negara merdeka yang banyak mengukir sejarah. Pada zaman dahulu, Indonesia dikenal sebagai kawasan yang di setiap daerahnya selalu ada kerajaan-kerajaan kecil.

Baru-baru ini beredar sebuah potret lawas sosok Dominicus Taolin yang merupakan penguasa Insana pulau Timor. Ia juga memiliki sejarah pernah divonis bersalah melakukan pembunuhan.
Berikut ulasannya.

Potret Bersama dengan Pengawal

Raja Dominicus Taolin penguasa Insana, kerajaan kecil di wilayah Tengah hingga Utara pulau Timor. Baru-baru ini beredar sebuah potret lawas sosok Raja Dominicus Taolin bersama pengawalnya dalam pengasingan di Ende, Flores, Circa pada tahun 1940.

Pose bersama penguasa pulau timor Dominicus Taolin bersama pengawal

Potret tersebut diunggah akun Twitter @potretlawas pada Selasa (25/5) sehingga mencuri perhatian.

Divonis Bersalah dalam Kasus Penyekapan & Pembunuhan 3 Orang

Perlu diketahui bahwa dalam sejarahnya, penguasa Insana ini pernah divonis bersalah dalam kasus penyekapan serta pembunuhan. Kasus tersebut menimpa tiga orang yang dituduh tengah melakukan sihir.
“Divonis bersalah dalam kasus penyekapan dan pembunuhan 3 orang yang dituduh melakukan sihir,” seperti dijelaskan dalam unggahan akun Potret Lawas.

Awal Mula Kasus

Kontrolir Belanda di Kefamenanu HGS Nordholt mencatat bahwa kasus tersebut bermula ketika anak raja sedang sakit dan tabib mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena hasil sihir seorang perempuan.

“Jadilah perempuan tersebut ditangkap. Juga anaknya dan satu cucu yang masih bocah. Malang, anak raja meninggal, mereka lalu ikut dibunuh,” lanjut keterangan menjelaskan sejarah.

Kasus Pembunuhan Jadi Perhatian karena Dilakukan oleh Raja

Peristiwa pembunuhan tersebut sontak saja jadi perhatian. Sebab, itu semua dilakukan oleh seorang raja. Raja sebelumnya yaitu, Kahalasi Taolin dibuang ke Sumba pada 1933 lantaran kasus serupa, yaitu mengubur hidup-hidup seorang pria dan menyekap dua orang lain.

“Bedanya, sementara Kahalasi menerima nasibnya, Dominicus anaknya berkukuh tidak salah dan meminta banding. Si raja menuduh para saksi bohong dan korban meninggal wajar. Tetapi usaha si raja gagal. Ia tetap dinyatakan bersalah dan dihukum buang 8 tahun,”.

[Sumber: Merdeka.com]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan