Angka Kasus Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik Lewat Facebook di NTT Meningkat

  • Bagikan
Sosialisasi Produk Bahasa dan Produk Hukum di Polres Belu/Foto: MP-GERBANG INDO

Atambua, GerbangIndo – Kantor Bahasa Provinsi NTT mencatat angka kasus penghinaan dan pencemaran nama baik di media sosial (Medsos) khusus Facebook cenderung meningkat. Di Propinsi NTT, gugatan kasus penghinaan dan pencemaran nama baik di medsos lewat Facebook meningkat setiap tahunnya.

Angkanya hampir 50 persen dan 90 persen kasus UU ITE itu berkaitan dengan topik-topik pribadi atau rumah tangga.

Hal ini diungkapkan Ahli Bahasa Hukum dan Perundang-undangan Kantor Bahasa NTT, Salimulloh Tegar Sanubarianto saat kegiatan sosialisasi produk bahasa dan hukum di Polres Belu, Kamis (10/06/2021).

“Di NNTT kasus penghinaan dan pencemaran nama baik itu lewat Facebook, angkanya sangat besar, 50% kasus itu dari facebook. Hampir 90% kasus UU ITE itu berkaitan dengan topik-topik pribadi atau rumah tangga,” ungkap Salim.

Menurut Salim, dari lokus perkara unggahan pribadi menempati urutan pertama yakni 69 persen, grup terbuka 29 persen dan akun instansi resmi 2 persen.

Sementara untuk topik pokok perkara lanjut Salim bahwa tentang ujaran kebencian pada individu mencapai 50 persen dan ujaran kebencian pada instansi 50 persen.

Pose Bersama/Foto: MP-GERBANG INDO

Sementara topik perkara pada grup terbuka tentang ujaran kebencian pada pemerintah atau instansi 7 persen, ujaran kebencian pada individu 93 persen.

Topik-topik tertentu yang mengarah pada penghinaan dan pencemaran nama baik lainnya berkaitan dengan utang piutang yakni 25 persen, pilpres dan pilkada 20 persen, kebijakan pemerintah 10 persen dan covid-19 nol persen.

Kantor Bahasa NTT sebut Salim mencatat tahun 2018 terdapat 27 kasus kebahasaan, terdiri dari pelanggaran pasal 310 KUHP 12 kasus dan pasal 27 ayat 3 UU ITE 15 kasus.

Tahun 2019 sebanyak 29 kasus, rincian pelanggaran pasal 310 KUHP 10 kasus, pasal 311 KUHP 5 kasus dan pasal 27 ayat 3 UU ITE 14 kasus. Tahun 2020 sebanyak 24 kasus, rincian pasal 310 KUHP 9 kasus, pasal 311 KUHP 1 kasus dan pasal 27 ayat 3 UU ITE sebanyak 14 kasus. Tahun 2021 keadaan Januari-Mei sebanyak 28 kasus, rincian pasal 310 KUHP 5 kasus dan pasal 27 ayat 3 UU ITE sebanyak 23 kasus.

“Nah ini kan ironis ya, jadi ternyata pengguna medsos khususnya di NTT masih belum terlalu memahami apa yang namanya literasi digital,” ujarnya.

Pihaknya dari Kantor Bahasa NTT jelas Salim selama ini sangat fokus pada edukasi literasi digital. Jadi masyarakat diberi pemahaman dan sosialisasi untuk memanfaatkan medsos untuk digunakan ke arah yang positif.

“Jadi literasi itu tidak hanya baca tulis saja, literasi digital itu bagaimana kita paham, kita hujat, kita tanggap dalam bermedsos bahwa medsos itu bukan hanya ranah privat tapi juga ranah publik. Kita harus sadar bahwa kita dilihat oleh banyak orang di Medsos. Kita harus tanggungjawab dengan apa yang kita unggah, kirim dan posting di medsos,” terang Salim.

Menggunakan medsos imbuh Salim butuh suatu pengetahun, kematangan dan kebijaksanaan dalam menggunakan medsos. Karena medsos rentan digunakan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan orang tua.

“Bijak bermedsos, dan juga kuasai literasi digital,” pintanya.

Untuk diketahui, kegiatan sosialisasi produk bahasa dan produk hukum yang digelar Kantor Bahasa NTT tersebut berlangsung selama empat hari sejak Senin (07/06) hingga Kamis (10/06) dan diikuti peserta perwakilan dari penyidik Satreskrim Polres Belu, Jaksa, Advokat dan Para Journalis di Kabupaten Belu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan