Kekerasan di RSUD, IDI Belu Minta Perlindungan Hukum dan Keamanan Saat Nakes Bertugas

  • Bagikan
Ketua IDI Cabang Belu, dr. Theodorus Lusianus Mau Bere/Foto: MP-GERBANG INDO

Atambua, GerbangIndoIkatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Belu meminta perlindangan hukum dan keamanan bagi tenaga kesehatan (Nakes) yang sedang menjalankan tugas pelayanan di wilayah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Perbatasan RI-Timor Leste.

Permintaan IDI Belu itu dilakukan pasca terjadinya tindakan kekerasan terhadap salah satu dokter yang sedang menjalankan tugas di RSUD Mgr. Gabriel Manek SVD Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada [27/07/2021] lalu.

Ketua IDI Cabang Belu, dr. Theodorus Lusianus Mau Bere kepada wartawan Senin [02/08/2021] menegaskan sebagai organisasi profesi yang menaungi dokter-dokter, IDI cabang Belu tidak menerima perlakuan tindak kekerasan terhadap dokter yang terjadi di RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua.

“Kami sangat sesali kejadian yang menimpa teman seprofesi kami. Apalagi sedang menjalankan tugas dan menangani pasien Covid-19. Kami para tenaga kesehatan, terutama dokter menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Kami ingin mendapatkan perlindungan secara hukum dalam tugas pelayanan kami,” tegasnya

Sebagai dokter tentunya akan bekerja sesuai sumpah profesi dan kode etik profesi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kejujuran dan profesionalisme.

“Kalau pun dalam penanganan ada kesalahan, masyarakat tidak perlu melakukan tindakan kekerasan. Bisa dilakukan dengan somasi secara hukum sesuai SOP yang ada,” tandas dr. Theo.

Pihaknya tegas dr. Theo sangat menyesalkan kejadian tersebut, karena itu IDI Cabang Belu menyatakan sikap antara lain; pertama, DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, KAMI BEKERJA SESUAI SUMPAH PROFESI DAN KODE ETIK PROFESI YANG MENJUNJUNG TINGGI NILAI KEMANUSIAAN, KEJUJURAN DAN PROFESIONALISME.

Kedua, DALAM MASA PANDEMI COVID 19 YANG TERJADI SELURUH DUNIA, KAMI PARA TENAGA MEDIS DALAM HAL INI DOKTER YANG BERTUGAS DI KABUPATEN BELU ADALAH GARDA TERDEPAN DALAM PENANGANAN KASUS COVID 19 YANG TERJADI DI KABUPATEN BELU.

Ketiga, TINDAKAN KEKERASAN YANG TERJADI TERHADAP REKAN SEJAWAT dr. SWEMPI M. ABOLLA ADALAH TINDAKAN YANG TIDAK TERPUJI DAN MELECEHKAN HARKAT DAN MARTABAT KAMI SEBAGAI DOKTER YANG BEKERJA SEBAGAI GARDA TERDEPAN PENANGANAN COVID-19 19. KAMI TIDAK MENERIMA DAN MENGUTUK KERAS TINDAK KEKERASAN TERHADAP TENAGA KESEHATAN DALAM HAL INI DOKTER.

Keempat, TINDAK KEKERASAN INI MERUSAK SEMANGAT DAN MOTIVASI KAMI DALAM MELAKSANAKAN TUGAS PENANGANAN COVID 19 DI KABUPATEN BELU.

Kelima, SEHARUSNYA TINDAK KEKERASAN INI TIDAK PERLU TERJADI, JIKA MASALAH INI DAPAT DI KOMUNIKASIKAN DENGAN BAIK.

Selanjutnya, IDI Cabang Belu meminta kepada pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas kejadian tersebut dan meminta perlindungan hukum serta keamanan terhadap pelayanan para tenaga medis khususnya dokter.

Berdasarkan pernyataan sikap tersebut lanjut dr. Theo, pihaknya meminta;

Pertama, PIHAK KEPOLISIAN DAN APARAT HUKUM TERKAIT DI KABUPATEN BELU UNTUK MENGUSUT TUNTAS DAN MEMBERIKAN SANKSI HUKUM YANG SETIMPAL KEPADA PARA PELAKU KASUS TINDAK KEKERASAN TERHADAP ANGGOTA IDI CABANG BELU.

Kedua, KAMI MEMINTA PERLINDUNGAN HUKUM DAN KEAMANAN KEPADA PIHAK-PIHAK TERKAIT DALAM MELAKSANAKAN TUGAS PELAYANAN KAMI SEHARI-HARI SEBAGAI GARDA TERDEPAN PENANGANAN COVID-19 DI KABUPATEN BELU.

Pernyataan sikap ini tegas dr. Theo disampaikan kepada PB IDI di Jakarta dan IDI Wilayah di Kupang, Bupati Belu, Ketua DPRD Belu, Kapolres Belu, Dandim 1605/Belu, Kajari Belu, Kadis Kesehatan Belu dan Direktur RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua.

Untuk diketahui, kasus kekerasan dengan pengeroyokan terhadap dokter itu bermula ketika para pelaku tidak terima anggota keluarganya berinisal BUM dinyatakan meninggal dunia karena positif covid-19.

Pihak keluarga bersikukuh menyatakan, saudara BUM, warga Motabuik, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, meninggal dunia karena serangan jantung dan bukan karena covid-19.

Saat itu, sekitar pukul 12.00 wita, Almarhum BUM (56) jatuh dan pingsan dirumahnya saat pulang dari kantor untuk makan siang. Keluarga panik dan langsung menelpon tenaga kesehatan di Puskesmas Atambua Selatan. Pihak Nakes puskesmas melakukan pemeriksaan dan menanyakan riwayat sakit Almarhum, kemudian menyimpulkan saudara BUM meninggal karena terkena serangan jantung.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 WITA, Almarhum dibawa ke RSUD Atambua dan jenazah kemudian di SWAB. Dari hasil laboratorium itu menunjukkan bahwa Almarhum BUM (56) positif Covid-19. Pihak keluarga pun tidak menerima hasil laboratorium yang ditunjukkan oleh dr. Helena.

Karena tak puas dengan hasil laboratorium, maka pihak keluarga meminta dr. Helena untuk menunjukkan Cartridge yang dipakai untuk memeriksa BUM. Karena terus menuntut, akhirnya pihak RSUD dan keluarga sepakat bahwa hanya salah satu keluarga pasien yang boleh melihat dengan menggunakan APD lengkap yang mana sebenarnya tidak boleh ditunjukkan kepada keluarga pasien.

Saat kejadian itu, ada juga dr. SMA yang sebenarnya sudah pulang karena telah selesai dinas. Namun, karena ada permintaan dari KTU RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua, maka dr. SMA yang bertanggung jawab pada ruang jenazah harus kembali bertugas.

Walau sudah ada kesepakatan, namun perdebatan terus terjadi. Ada salah satu anggota keluarga Almarhum BUM yang berbicara tanpa menggunakan masker. Ketika dr. SMA menegurnya, salah satu keluarga itu mengatakan bahwa mereka semua yang berada di dalam ruang jenazah bisa tertular virus.

Karena melihat situasi yang tidak kondusif lagi, maka dr. SMA meminta kepada pihak manajemen RSUD Atambua untuk segera menghubungi Satpol PP. Saat itu, keluarga Almarhum yang tidak menggunakan masker itu mulai naik pitam karena mengira pihak dr. SMA mengancam mereka.

Saat itulah tiba-tiba banyak keluarga Almarhum BUM mulai menyerang dr. SMA secara membabi buta. Saat itu, beberapa ibu dari pihak manajemen RSUD Atambua yang berada di lokasi langsung berusaha untuk melindungi dr. SMA. Mereka pun sempat mendapat pukulan dari pihak keluarga Almarhum BUM.

Pihak keamanan baik dari Kepolisian Polres Belu, Kodim 1605/Belu, Yonif Raider 744, Satgas Pamtas RI-RDTL, dan Satpol PP pun dengan cekat langsung mendatangi ruang Jenazahnya RSUD Atambua.

Kasus tersebut sudah dilaporkan pihak Manajemen RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua ke polisi untuk diproses secara hukum.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan